Mengutip buku Teologi Islam susunan Muhammad Ridwan Efendi (2021), Allah adalah Dzat yang Maha Melihat. Dia bisa melihat segala perbuatan manusia, baik yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan.
Firman Allah SWT, surat Al-An'am : 103
Latudrikuhul absoru wa huwa yudrikul absooro wa huwalathiiful khobiir
Artinya: “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu, dan Dialah
Yang Mahahalus, Mahateliti.”
Tafsir Ayat
a. Tafsir Jalalayn
Mata makhluk tidak mampu melihat Allah di dunia karena keterbatasan makhluk, sedangkan Allah melihat segala sesuatu tanpa batas. Dia adalah al-Lathif (Yang Maha Halus), yaitu yang mengetahui hal paling tersembunyi, dan al-Khabir (Yang Maha Mengetahui), yaitu yang mengetahui segala perbuatan makhluk.
b. Tafsir Ibnu Katsir
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini menegaskan kemahakuasaan Allah yang tidak dapat dilihat oleh mata manusia di dunia. Namun, pada Hari Kiamat, orang-orang yang beriman akan diberi kemampuan untuk melihat-Nya di surga, sebagai bentuk kenikmatan tertinggi.
Berikut penjelasan ulama mengenai Surat Al-An’am ayat 103 dengan dalil dan penjelasan yang lebih rinci :
1. Pendapat Ibnu Abbas
Ibnu Abbas menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan kebesaran Allah yang tidak dapat dicapai oleh indra manusia. Beliau menafsirkan bahwa penglihatan manusia di dunia tidak mampu menjangkau Allah karena:
Keterbatasan indra manusia.
Allah melampaui dimensi ruang dan waktu.
Namun, di akhirat, orang-orang beriman akan diberi kenikmatan melihat Allah (ru’yatullah).
Dalil Pendukung:
Dalam sebuah hadits shahih, Nabi Muhammad SAW bersabda:
إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ الْقَمَرَ لَيْلَةَ الْبَدْرِ لَا تُضَامُّونَ فِي رُؤْيَتِهِ
"Kalian akan melihat Tuhan kalian sebagaimana kalian melihat bulan pada malam purnama, tanpa ada kesulitan dalam melihat-Nya."
(HR. Bukhari dan Muslim)
2. Pendapat Imam Al-Qurtubi
Dalam tafsirnya, Al-Qurtubi menjelaskan bahwa ayat ini memiliki dua dimensi:
Dimensi Dunia: Tidak ada satu pun makhluk yang dapat melihat Allah dengan mata fisik karena Allah tidak serupa dengan makhluk-Nya (lihat Surat Asy-Syura: 11).
Dimensi Akhirat: Orang beriman akan melihat Allah sebagai bentuk kenikmatan yang paling agung.
Dalil Pendukung:
Allah berfirman:
وُجُوهٌۭ يَوْمَئِذٍۢ نَّاضِرَةٌ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌۭ
"Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Mereka melihat kepada Tuhannya."
(QS. Al-Qiyamah: 22-23)
3. Pendapat Imam Ghazali
Menurut Imam Al-Ghazali, dalam Ihya Ulumuddin, ayat ini bukan hanya berbicara tentang penglihatan mata, tetapi juga penglihatan hati. Beliau menjelaskan bahwa:
Mata Fisik: Tidak dapat melihat Allah di dunia karena Allah melampaui sifat jasadiyah.
Mata Hati (Ma’rifah): Bisa mengenal Allah melalui tanda-tanda kebesaran-Nya yang tersebar di alam semesta.
Dalil Pendukung:
Allah berfirman:
سَنُرِيهِمْ ءَايَـٰتِنَا فِى ٱلْـَٔافَاقِ وَفِىٓ أَنفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ ٱلْحَقُّ
"Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, hingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur'an itu adalah benar."
(QS. Fussilat: 53)
4. Pendapat Imam Nawawi
Imam Nawawi menekankan bahwa ayat ini mengajarkan tentang keagungan Allah yang melampaui kemampuan makhluk-Nya. Beliau juga menjelaskan:
Allah dapat "melihat" segala sesuatu, termasuk yang tersembunyi dalam hati manusia.
Penglihatan manusia sangat terbatas, sementara Allah Maha Melihat dan Maha Tahu.
Dalil Pendukung:
Allah berfirman:
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَخْفَىٰ عَلَيْهِۦ شَىْءٌۭ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا فِى ٱلسَّمَآءِ
"Sesungguhnya tiada sesuatu pun yang tersembunyi di bumi maupun di langit bagi Allah."
(QS. Ali Imran: 5)
5. Penjelasan Ulama Akidah (Asy’ariyah dan Maturidiyah)
Dalam akidah Asy’ariyah dan Maturidiyah, ayat ini menunjukkan:
Tauhid Sifat: Allah tidak serupa dengan makhluk-Nya, termasuk dalam sifat penglihatan.
Ru’yatullah di Akhirat: Ayat ini bukan penolakan mutlak terhadap penglihatan Allah, tetapi penolakan terhadap kemampuan manusia di dunia.
Dalil Pendukung:
Allah berfirman:
لَيْسَ كَمِثْلِهِۦ شَىْءٌۭۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ
"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar, Maha Melihat."
(QS. Asy-Syura: 11)
_______________________________
Dijelaskan dalam Buku Pintar Hari Akhir karya Dr. Abdul Muhsin (2012), Surat Al-An’am ayat 103 mengandung pujian dan kesempurnaan. Allah adalah zat yang Mahatinggi, sehingga harus dipuji dengan sesuatu yang melekat pada ketiadaan mutlak.
_______________________________
Di akhirat kelak manusia yang beriman akan diberikan keistimewaan untuk melihat Allah SWT. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini. Kalian tidak akan kesulitan (ragu) ketika melihatnya. Jika kalian mampu untuk tidak ketinggalan shalat sebelum terbitnya fajar dan sebelum terbenamnya matahari maka lakukanlah.” (HR. Bukhari)
Berbeda dengan orang mukmin, orang kafir justru tidak diperkenankan untuk melihat Allah SWT. Dalam Surat Al-Mutafifin ayat 15, Allah berfirman: “Sekali-kali tidak! Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhannya.”
_______________________________
Hikmah di Balik Ayat
Kesadaran akan Keterbatasan Makhluk: Ayat ini mengajarkan manusia tentang betapa kecil dan terbatasnya makhluk dibandingkan Allah.
Peningkatan Keimanan: Dengan menyadari bahwa Allah mengetahui segala sesuatu, seorang mukmin lebih berhati-hati dalam perbuatannya.
Kehalusan Allah: Allah Maha Lembut dalam kasih sayang dan pemberian-Nya kepada makhluk-Nya, meskipun manusia sering kali lalai.
_______________________________
Khasiat Ayat
Ayat ini sering digunakan sebagai doa untuk:
1.Perlindungan dari mata jahat dan gangguan yang tidak terlihat.
2. Memperkuat keyakinan akan perlindungan Allah.
3. Menenangkan hati yang gelisah dengan mengingat keagungan Allah.
_______________________________
Cara Mengamalkannya
1. Dibaca Rutin: Ayat ini dapat dibaca setiap pagi dan petang sebagai dzikir sebanyak 13 kali
2. Doa Pelindung: Bacakan ayat ini pada air 7 kali lalu diminumkan untuk menghilangkan rasa was-was atau ketakutan.
3. Renungkan Maknanya: Setelah membaca 113 kali, renungkan bahwa Allah selalu mengetahui kondisi hamba-Nya.
4. Menjaga kehancuran jasad di dalam kubur bagi si pembaca, ayat ini dibaca sebanyak 300 kali. Dalam sekali baca tidak diselingi perbuatan lainnya.
Sumber: perguruanalhikmah
Komentar
Posting Komentar