Langsung ke konten utama

CIRI-CIRI BUROK DALAM HADIST SHOHIH

Ciri-Ciri Buraq dalam Hadis: Pemahaman dan Penjelasan

Buraq merupakan makhluk yang sangat penting dalam perjalanan Isra' dan Mi'raj yang dialami oleh Nabi Muhammad ﷺ. Perjalanan ini mengisahkan tentang perjalanan malam Nabi dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa dan kemudian menuju langit. Salah satu elemen penting dalam perjalanan tersebut adalah Buraq, kendaraan yang digunakan oleh Rasulullah ﷺ. Banyak cerita yang berkembang mengenai rupa dan sifat Buraq, namun dalam artikel ini kita akan membahasnya berdasarkan hadis-hadis sahih serta penjelasan dari para ulama.

1. Sifat Buraq dalam Hadis
Deskripsi Buraq Menurut Hadis Shahih. Buraq digambarkan dalam hadis sebagai makhluk yang memiliki sifat fisik yang luar biasa. Salah satu hadis yang paling terkenal tentang Buraq diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu. Dalam hadis tersebut, Rasulullah ﷺ menyatakan bahwa Buraq adalah hewan yang berwarna putih dan memiliki ukuran tubuh yang unik:

Teks Arab:

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ:
تُحْتُ بِالْبُرَاقِ وَهُوَ دَابَّةٌ أَبْيَضُ طَوِيلٌ فَوْقَ الْحِمَارِ وَدُونَ الْبَغْلِ، يَضَعُ حَافِرَهُ عِندَ مُنْتَهَى طَرْفِهِ

Terjemahan:
Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, ia berkata:
"Aku didatangkan dengan Buraq, yaitu seekor hewan putih yang panjang, lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari bagal. Ia meletakkan telapak kakinya sejauh mata memandang."
(HR. Muslim No. 162)

Hadis ini menggambarkan Buraq sebagai makhluk yang berwarna putih dan memiliki ukuran tubuh yang lebih besar dari keledai, tetapi lebih kecil dari bagal. Kecepatannya sangat luar biasa, karena setiap langkahnya dapat menempuh jarak sejauh pandangan mata.

2. Bentuk Buraq
Buraq digambarkan dalam hadis-hadis sahih sebagai makhluk berwarna putih, memiliki ukuran tubuh yang besar, dan berkecepatan tinggi. Namun, tidak ada keterangan dalam hadis yang menyatakan bahwa Buraq memiliki wajah manusia atau sayap besar, meskipun cerita semacam itu seringkali muncul dalam cerita rakyat atau riwayat-riwayat yang lemah.

A. Bentuk Fisik Buraq:
Berwarna putih.
Panjang dan memiliki kecepatan luar biasa.

Tidak ada riwayat sahih yang menyebutkan bahwa Buraq memiliki wajah manusia, sayap, atau ekor merak.

3. Keadaan Buraq dalam Hadis

A. Keadaan Buraq Saat Dipanggil
Buraq, meskipun merupakan makhluk yang sangat mulia, tampaknya memiliki kesadaran terhadap siapa yang menungganginya. Sebuah riwayat menyebutkan bahwa ketika Buraq pertama kali dipanggil, ia enggan untuk menuruti perintah. Jibril lalu menegur Buraq dengan berkata:

Teks Arab:

وَيْحَكَ يَا بُرَاقُ، فَوَاللَّهِ مَا رَكِبَكَ أَحَدٌ أَكْرَمُ عَلَى اللَّهِ مِنْهُ

Terjemahan:
"Celakalah engkau, wahai Buraq! Demi Allah, tidak ada seorang pun yang lebih mulia di sisi Allah yang pernah menunggangimu selain dia (Muhammad)."
(HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak No. 4248)

Hal ini menunjukkan bahwa Buraq memiliki kesadaran dan bisa merespon perintah, serta menunjukkan kemuliaan Rasulullah ﷺ sebagai pemilik perjalanan ini.

4. Awal Pertemuan dengan Buraq

A. Kedatangan Buraq untuk Rasulullah ﷺ

Perjalanan Isra' dimulai dengan kedatangan Buraq yang disediakan oleh Allah untuk menyertai Rasulullah ﷺ dalam perjalanan agung tersebut. Buraq datang dari langit, dan ketika datang, Rasulullah ﷺ berkata:

Teks Arab:

تُحْتُ بِالْبُرَاقِ وَهُوَ دَابَّةٌ أَبْيَضُ

Terjemahan:

"Aku didatangkan dengan Buraq yang berwarna putih."
(HR. Muslim No. 162)

Buraq merupakan kendaraan yang sempurna untuk perjalanan tersebut, memiliki kecepatan yang luar biasa dan kekuatan yang mampu membawa Rasulullah ﷺ sejauh itu dalam waktu yang sangat singkat.

5. Cerita Perjalanan Isra' dan Mi'raj

A. Perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa
Setelah Buraq hadir, Rasulullah ﷺ menungganginya dan memulai perjalanan Isra' dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa. Kecepatan Buraq sangat menakjubkan, ia mampu menempuh perjalanan jauh tersebut dalam waktu yang sangat singkat. Perjalanan ini adalah perjalanan malam yang penuh berkah dan keberkahan.

B. Mengikat Buraq di Baitul Maqdis
Setelah tiba di Masjidil Aqsa, Rasulullah ﷺ mengikat Buraq di sebuah tempat yang biasa digunakan oleh para nabi untuk mengikat kendaraan mereka. Hadis ini menggambarkan bahwa Buraq adalah kendaraan yang begitu mulia, bahkan lebih mulia dari kendaraan lainnya:

Teks Arab:

فَرَبَطْتُهُ بِالْحَلْقَةِ الَّتِي يَرْبِطُ بِهَا الْأَنْبِيَاءُ

Terjemahan:
"Lalu aku mengikatnya di cincin yang biasa digunakan oleh para nabi untuk mengikat (hewan tunggangan mereka)."
(HR. Muslim No. 162)

C. Mi'raj: Perjalanan Menuju Langit
Setelah perjalanan Isra', Rasulullah ﷺ melanjutkan Mi'raj, yaitu perjalanan ke langit yang membawa beliau lebih dekat kepada Allah. Perjalanan ini juga dilakukan dengan Buraq, yang mengantarkan Rasulullah ﷺ ke tempat-tempat tinggi di langit untuk bertemu dengan Allah dan menerima wahyu.

Kesimpulan
Buraq adalah makhluk luar biasa yang digunakan oleh Rasulullah ﷺ dalam perjalanan Isra' dan Mi'raj. Ia digambarkan dalam hadis-hadis sahih sebagai hewan berwarna putih dengan ukuran tubuh yang lebih besar dari keledai, namun lebih kecil dari bagal. Kecepatan Buraq yang luar biasa memungkinkan perjalanan yang sangat jauh dalam waktu yang sangat singkat.

Tidak ada riwayat sahih yang menyebutkan bahwa Buraq memiliki wajah manusia, sayap besar, atau ekor seperti merak, meskipun cerita-cerita semacam ini sering muncul dalam riwayat-riwayat lemah atau cerita rakyat. Oleh karena itu, kita seharusnya hanya mengambil pemahaman yang berdasarkan pada riwayat yang sahih.

Analisis Kecepatan Buraq dalam Hadis dan Sains

Buraq adalah makhluk luar biasa yang digunakan oleh Rasulullah ﷺ dalam perjalanan Isra' dan Mi'raj. Dalam berbagai riwayat hadis, Buraq digambarkan memiliki kecepatan luar biasa, bahkan setiap langkahnya menjangkau sejauh mata memandang. Jika dianalisis dengan sudut pandang sains, bagaimana kita bisa memahami kecepatan Buraq? Artikel ini akan membahasnya secara mendalam berdasarkan hadis-hadis shahih serta mencoba menghitungnya dalam perspektif sains modern.

1. Kecepatan Buraq dalam Hadis Shahih
Hadis yang meriwayatkan kecepatan Buraq diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu:

Teks Hadis:

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ:
تُحْتُ بِالْبُرَاقِ وَهُوَ دَابَّةٌ أَبْيَضُ طَوِيلٌ فَوْقَ الْحِمَارِ وَدُونَ الْبَغْلِ، يَضَعُ حَافِرَهُ عِندَ مُنْتَهَى طَرْفِهِ

Terjemahan:
Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, ia berkata:
"Aku didatangkan dengan Buraq, yaitu seekor hewan putih yang panjang, lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari bagal. Ia meletakkan telapak kakinya sejauh mata memandang."
(HR. Muslim No. 162)

Hadis ini menunjukkan bahwa kecepatan Buraq tidak terbatas oleh hukum gerak biasa, karena dalam satu langkahnya, ia mampu menempuh jarak sejauh yang dapat dilihat oleh mata manusia.

2. Kecepatan Buraq dalam Perjalanan Isra'
Perjalanan Isra' adalah perjalanan malam yang membawa Rasulullah ﷺ dari Masjidil Haram (Makkah) ke Masjidil Aqsa (Yerusalem).

Jarak dan Waktu Tempuh

Jarak: Sekitar 1.200 km.

Waktu: Ditempuh dalam kurang dari satu malam.

Jika kita mengasumsikan perjalanan Isra' berlangsung selama 1 jam, maka kecepatan Buraq dapat dihitung dengan rumus:

\text{Kecepatan} =
\frac{\text{Jarak}}{\text{Waktu}}

= \frac{1200 \text{ km}}{1 \text{ jam}}

= 1200 \text{ km/jam}

Perbandingan dengan Kendaraan Modern:

Kecepatan pesawat jet komersial: ±900 km/jam

Kecepatan suara (Mach 1): ±1.235 km/jam

Buraq setara dengan kecepatan suara!

Kecepatan ini jauh melampaui kendaraan tercepat di zaman Nabi, seperti unta dan kuda, yang hanya mampu menempuh 40-60 km/h dalam kondisi terbaik.

3. Kecepatan Buraq dalam Perjalanan Mi'raj
Dalam Mi'raj, Rasulullah ﷺ naik dari Baitul Maqdis ke langit ketujuh dan Sidratul Muntaha.

Jarak ke Langit

Jika kita mengasumsikan Mi'raj membawa Rasulullah ﷺ ke tepi alam semesta yang teramati, maka jaraknya adalah 46 miliar tahun cahaya.

1 tahun cahaya = 9,46 triliun km

Tepi alam semesta = 46 miliar tahun cahaya


Jika perjalanan ini berlangsung dalam 1 jam, maka kecepatan Buraq adalah:

\text{Kecepatan} = \frac{46 \times 9,46 \times 10^{12} \text{ km}}{1 \text{ jam}}

= 4,35 \times 10^{14} \text{ km/jam}

Perbandingan dengan Kecepatan Alamiah:

Kecepatan cahaya: 1,08 miliar km/jam

Kecepatan Buraq dalam Mi'raj: Jauh lebih cepat dari cahaya!

Dalam teori relativitas Einstein, tidak ada benda fisik yang bisa bergerak lebih cepat dari cahaya. Ini menunjukkan bahwa Buraq adalah makhluk luar biasa yang beroperasi di luar hukum fisika biasa.

4. Apakah Kecepatan Buraq Masuk Akal dalam Sains?
Dari sudut pandang sains modern, tidak ada kendaraan atau makhluk yang bisa bergerak secepat itu tanpa melanggar hukum fisika. Namun, perjalanan Isra' dan Mi'raj adalah mukjizat, sehingga kecepatan Buraq tidak bisa dijelaskan hanya dengan sains biasa.

Beberapa teori yang bisa digunakan untuk memahami fenomena ini:

1. Wormhole (Lubang Cacing): Kemungkinan Buraq bergerak melalui dimensi ruang-waktu yang memungkinkan perjalanan jauh dalam waktu singkat.
2. Dimensi Keempat: Buraq mungkin bergerak melalui dimensi yang lebih tinggi yang tidak bisa diamati oleh manusia biasa.
3. Intervensi Ilahi: Perjalanan ini bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga memiliki unsur metafisik yang melampaui hukum alam.

Kesimpulan
1. Kecepatan Buraq dalam Isra'
Diperkirakan sekitar 1.200 km/jam, setara dengan kecepatan suara.

Jauh lebih cepat dibandingkan kendaraan di zaman itu.

2. Kecepatan Buraq dalam Mi'raj
Diperkirakan jauh lebih cepat dari kecepatan cahaya, mencapai triliunan km per jam.

Tidak mungkin dijelaskan dengan hukum fisika biasa.

3. Dalam sains modern, tidak ada benda yang bisa bergerak lebih cepat dari cahaya tanpa melanggar hukum relativitas Einstein. Namun, karena Isra' dan Mi'raj adalah mukjizat, perjalanannya melibatkan dimensi yang lebih tinggi dan intervensi ilahi.

Dengan demikian, kecepatan Buraq bukan hanya sekadar angka, tetapi bagian dari keajaiban yang menunjukkan kekuasaan Allah SWT dalam membawa Rasulullah ﷺ dalam perjalanan spiritual terbesar sepanjang sejarah.

Referensi Kitab:
1. Shahih Muslim (No. 162)
2. Musnad Ahmad (No. 12136)
3. Al-Mustadrak – Al-Hakim (No. 4248)
4. Fathul Bari – Ibnu Hajar
5. Relativity: The Special and General Theory – Albert Einstein
6. The Fabric of the Cosmos – Brian Greene





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Latudrikuhul Absoru,Surat Al-An’am Ayat 103, dan Hikmah di dalamnya.

Mengutip buku Teologi Islam susunan Muhammad Ridwan Efendi (2021), Allah adalah Dzat yang Maha Melihat. Dia bisa melihat segala perbuatan manusia, baik yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Firman Allah SWT, surat Al-An'am : 103 لَا تُدْرِكُهُ الْاَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْاَبْصَارَۚ وَهُوَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ Latudrikuhul absoru wa huwa yudrikul absooro wa huwalathiiful khobiir Artinya: “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu, dan Dialah  Yang Mahahalus, Mahateliti.” Tafsir Ayat a. Tafsir Jalalayn Mata makhluk tidak mampu melihat Allah di dunia karena keterbatasan makhluk, sedangkan Allah melihat segala sesuatu tanpa batas. Dia adalah al-Lathif (Yang Maha Halus), yaitu yang mengetahui hal paling tersembunyi, dan al-Khabir (Yang Maha Mengetahui), yaitu yang mengetahui segala perbuatan makhluk. b. Tafsir Ibnu Katsir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini menegaskan kemahakuasaan Allah yang tidak ...

KHASIAT SURAT AT-TAUBAH AYAT 128-129

Diantara khasiat dua ayat ini maksudnya LAQAD JAA`AKUM s/d akhir surat, bahwasanya barang siapa membacanya pada satu hari maka dia tidak akan mati pada hari tsb, sebagaimana diriwayatkan dari Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam َ Fadhilah Khusus dari Surat At-Taubah Ayat 128-129 ?  Dalam Kitab Mujarrabat Ad-Dairabi Al-Kabir, karya Syeikh Ahmad Dairabi, halaman 42, cetakan Mathba’ah Musthafa Muhammad, Mesir, diterangkan: Dalam satu riwaayat, dia tidak akan dibunuh, dan tidak akan dibukul dengan besi. Jika dia membacanya di malam hari maka sebagaimana yang disebutkan diatas (maksudnya dia tidak akan mati di malam hari tsb). Hadits ini dituturkan oleh ba'dhusholihin. عن الشيخ التجاني ا من قرأ آية الحرص ( لقد جاءكم رسول من أنفسكم...........) مرة بعد صلاة الصبح حفظ قلبه و بعد صلاة الظهر (مرة) أحيا قلبه و ثبته في الحياة الدنيا و الآخرة و بعد صلاة العصر (مرة)لم يمت موت الفجأة و بعد صلاة المغرب (مرة) رزق الاستقامة و بعد صلاة العشاء (مرة) حفظ من كبار المعاصي و بعد الوتر (مرة) كفى أمر الر...