Langsung ke konten utama

ASMAUL HUSNA AL JABBAR ( الجبار )

Berikut penjelasan lengkap mengenai Ya Jabbar:

1. Arti Bahasa dan Istilah
Bahasa: Secara bahasa, "Al-Jabbar" berasal dari akar kata jabr (جَبْرٌ) yang berarti "memperbaiki", "memaksa", atau "menyempurnakan".

Istilah: Dalam konteks Asmaul Husna, Al-Jabbar berarti Allah Yang Maha Perkasa, yang memiliki kekuasaan mutlak untuk memaksakan kehendak-Nya, sekaligus menyempurnakan atau memperbaiki keadaan makhluk-Nya.

1. Dalil dari Al-Qur'an
    1. Surah Al-Hasyr (59:23)
اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ
Artinya: "Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa (Al-Jabbar), Yang Memiliki Segala Keagungan. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan."
    2. Surah Qaf (50:45)
نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَقُولُونَ وَمَا أَنْتَ عَلَيْهِمْ بِجَبَّارٍ فَذَكِّرْ بِالْقُرْآنِ مَنْ يَخَافُ وَعِيدِ
Artinya: "Kami lebih mengetahui apa yang mereka katakan, dan engkau (Muhammad) bukanlah seorang pemaksa terhadap mereka. Maka berilah peringatan dengan Al-Qur'an kepada orang yang takut kepada ancaman-Ku."

2. Dalil dari Hadis
    1. Hadis Qudsi
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: الْعِزُّ إِزَارِي وَالْكِبْرِيَاءُ رِدَائِي، فَمَنْ نَازَعَنِي وَاحِدًا مِنْهُمَا أَلْقَيْتُهُ فِي النَّارِ
Artinya: Allah berfirman: "Keagungan adalah selendang-Ku, dan kesombongan adalah pakaian-Ku. Barang siapa menyaingi-Ku dalam salah satu darinya, maka Aku akan melemparkannya ke neraka."
(HR. Muslim, no. 2620)
    2. Doa Rasulullah SAW
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَدُعَاءٍ لَا يُسْمَعُ، وَنَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَعِلْمٍ لَا يَنْفَعُ
Artinya: "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari hati yang tidak khusyuk, doa yang tidak didengar, jiwa yang tidak pernah puas, dan ilmu yang tidak bermanfaat."
(HR. Tirmidzi, no. 3502)

Berikut adalah tafsir dan penjelasan ulama mengenai Al-Jabbar beserta rujukan dari kitab-kitab tafsir:
1. Tafsir Menurut Ulama
    a. Imam Al-Ghazali
Dalam kitabnya Al-Maqsad Al-Asna fi Syarh Asma Allah Al-Husna, Imam Al-Ghazali menjelaskan:

Al-Jabbar memiliki tiga makna utama:
    1. Yang Memperbaiki (Muslih): Allah memperbaiki hati yang hancur dan menyempurnakan keadaan makhluk-Nya.
    2. Yang Memaksa (Qahhar): Allah memiliki kekuasaan untuk memaksa kehendak-Nya kepada siapa pun tanpa ada yang mampu menolak.
    3. Yang Maha Tinggi (Aliyyun): Tidak ada yang dapat menjangkau atau menyamai kekuasaan dan kedudukan-Nya.
Rujukan: Al-Maqsad Al-Asna fi Syarh Asma Allah Al-Husna.

b. Ibnu Katsir
    Dalam tafsirnya mengenai Surah Al-Hasyr (59:23), Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Al-Jabbar adalah sifat Allah yang menunjukkan kekuasaan absolut-Nya. Allah tidak memerlukan makhluk, tetapi seluruh makhluk bergantung kepada-Nya.
    Al-Jabbar juga bermakna bahwa Allah melindungi hamba-Nya yang tertindas dan memberikan keadilan kepada mereka yang zalim.
Rujukan: Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim, Ibnu Katsir.

c. Imam Ar-Razi
    Dalam tafsirnya, Imam Fakhruddin Ar-Razi menyebutkan bahwa Al-Jabbar mengandung makna kasih sayang yang mendalam. Allah mengatur dan memaksa makhluk-Nya menuju kebaikan, meskipun terkadang hal itu terasa sulit bagi mereka.
Rujukan: Mafatih Al-Ghaib (Tafsir Ar-Razi).

d. As-Sa’di
    Imam As-Sa’di dalam tafsirnya mengatakan bahwa Al-Jabbar mencakup sifat kelembutan dan keadilan. Allah memperbaiki keadaan hamba-Nya yang membutuhkan dan memberikan keputusan yang terbaik sesuai hikmah-Nya.
Rujukan: Tafsir As-Sa’di.

2. Penjelasan dari Kitab Tafsir
    a. Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim (Ibnu Katsir)
Makna Al-Jabbar dalam Surah Al-Hasyr: Allah adalah satu-satunya yang berkuasa untuk memaksakan kehendak-Nya, dan sifat ini hanya milik-Nya semata.

Konteks Surah Qaf (50:45): Dalam ayat ini, Rasulullah SAW ditegaskan bahwa beliau bukanlah seorang yang memaksa manusia untuk beriman. Tugas beliau hanya menyampaikan, sedangkan kekuasaan mutlak ada di tangan Allah.

b. Tafsir Al-Baghawi
    Penjelasan Surah Al-Hasyr (59:23): Al-Jabbar berarti Allah yang memperbaiki keadaan makhluk yang rusak. Dia juga bermakna sebagai Zat yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Rujukan: Ma’alim At-Tanzil (Tafsir Al-Baghawi).

c. Tafsir Mafatih Al-Ghaib (Ar-Razi)
    Dalam penjelasan mengenai Surah Al-Hasyr, Al-Jabbar menunjukkan bahwa Allah memaksa kehendak-Nya dengan hikmah. Segala sesuatu yang Allah tetapkan, meskipun sulit dipahami, selalu mengandung kebaikan.

Kesimpulan
    Al-Jabbar bermakna Allah yang Maha Memaksa, Maha Memperbaiki, dan Maha Tinggi. Sifat ini menunjukkan kekuasaan mutlak Allah yang tidak tertandingi.

Tafsir dari berbagai ulama menekankan bahwa kekuasaan Allah selalu dilandasi oleh hikmah dan kasih sayang kepada makhluk-Nya.

Rujukan Kitab:
1. Al-Maqsad Al-Asna - Imam Al-Ghazali.
2. Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim - Ibnu Katsir.
3. Mafatih Al-Ghaib - Imam Fakhruddin Ar-Razi.
4. Tafsir As-Sa’di - Abdurrahman As-Sa’di.
5. Ma’alim At-Tanzil - Al-Baghawi.

KHASIAT ZIKIR ISIM AL JABBAR

1. Barang siapa yang membaca Asma Allah ini sebanyak YA JABBARU 226 kali di setiap pagi dan sore hari, dia akan diselamatkan dari kezaliman penguasa dan orang – orang yang kejam, baik di darat maupun dilaut, di dalam perjalanan maupun di tempat kediaman.

2. Perlindungan dari Kezaliman: Dzikir “Ya Jabbar” setiap hari 100 kali membantu seseorang untuk memohon perlindungan dari Allah SWT terhadap segala bentuk kezaliman, kekerasan, dan kekejaman. Dengan mengamalkan dzikir ini, seseorang memohon kepada Allah, yang Maha Perkasa, untuk melindungi dirinya dari tindakan dzalim orang lain.

3. Pemberian Kekuatan: Dzikir ini juga dianggap sebagai sumber kekuatan, baik secara fisik maupun mental. Dengan mengingat Allah sebagai “Al-Jabbar” di baca 313 kali , seseorang memohon kekuatan untuk menghadapi tantangan dan kesulitan dalam hidup.
Penyembuhan: Nama “Al-Jabbar” juga berarti “Yang Memperbaiki”. Oleh karena itu, dzikir “Ya Jabbar” sering diucapkan dengan harapan mendapatkan penyembuhan dari Allah untuk segala jenis luka, baik fisik maupun emosional.

4. Ketenangan Batin: Dzikir ini membantu seseorang untuk mencapai ketenangan batin dan kedamaian pikiran. Dengan mengulang-ulang nama Allah yang Maha Perkasa, seseorang dapat merasa lebih dekat dengan-Nya dan mendapatkan ketenangan hati.
Mengatasi Rasa Takut: Dzikir “Ya Jabbar” 113 kali sebelum pergi dan bekerja, dapat membantu seseorang untuk mengatasi rasa takut dan kecemasan. Dengan mempercayai bahwa Allah adalah Maha Perkasa, seseorang dapat merasa lebih aman dan terlindungi.

5. Menghindari Pengaruh Buruk: Dengan mengamalkan dzikir ini, seseorang memohon kepada Allah untuk terhindar dari pengaruh buruk dan perbuatan yang tidak diinginkan. Ini termasuk perlindungan dari godaan dan tipu daya.
Penguatan Iman: Dzikir “Ya Jabbar” 13 Kali sebelum keluar rumah, juga bertujuan untuk memperkuat iman seseorang. Dengan mengingat kekuasaan Allah, seseorang menjadi lebih yakin akan kebesaran dan kekuasaan-Nya.

6. Pemenuhan Harapan: Dzikir ini juga diucapkan dengan harapan bahwa Allah akan memenuhi harapan dan cita-cita seseorang. Dengan menggantungkan harapan hanya kepada Allah, seseorang memohon agar usahanya diberkahi dan tujuannya tercapai.
Otoritas dan Kewibawaan: Dzikir “Ya Jabbar” 1001 kali juga dipercaya dapat memberikan otoritas dan kewibawaan kepada seseorang. Dengan izin Allah, seseorang yang mengamalkan dzikir ini tidak akan dipaksa oleh siapapun untuk melakukan sesuatu yang tidak diinginkannya.

7. Menghindari Kesombongan: Dzikir ini mengingatkan seseorang untuk tidak sombong ketika mampu berbuat kebaikan. Dengan mengingat bahwa Allah adalah “Al-Jabbar”, 41 kali,  seseorang diingatkan untuk selalu bersikap rendah hati.











Komentar

Postingan populer dari blog ini

CIRI-CIRI BUROK DALAM HADIST SHOHIH

Ciri-Ciri Buraq dalam Hadis: Pemahaman dan Penjelasan Buraq merupakan makhluk yang sangat penting dalam perjalanan Isra' dan Mi'raj yang dialami oleh Nabi Muhammad ﷺ. Perjalanan ini mengisahkan tentang perjalanan malam Nabi dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa dan kemudian menuju langit. Salah satu elemen penting dalam perjalanan tersebut adalah Buraq, kendaraan yang digunakan oleh Rasulullah ﷺ. Banyak cerita yang berkembang mengenai rupa dan sifat Buraq, namun dalam artikel ini kita akan membahasnya berdasarkan hadis-hadis sahih serta penjelasan dari para ulama. 1. Sifat Buraq dalam Hadis Deskripsi Buraq Menurut Hadis Shahih. Buraq digambarkan dalam hadis sebagai makhluk yang memiliki sifat fisik yang luar biasa. Salah satu hadis yang paling terkenal tentang Buraq diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu. Dalam hadis tersebut, Rasulullah ﷺ menyatakan bahwa Buraq adalah hewan yang berwarna putih dan memiliki ukuran tubuh yang unik: Teks Arab: عَنْ أَنَسٍ رَضِ...

Latudrikuhul Absoru,Surat Al-An’am Ayat 103, dan Hikmah di dalamnya.

Mengutip buku Teologi Islam susunan Muhammad Ridwan Efendi (2021), Allah adalah Dzat yang Maha Melihat. Dia bisa melihat segala perbuatan manusia, baik yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Firman Allah SWT, surat Al-An'am : 103 لَا تُدْرِكُهُ الْاَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْاَبْصَارَۚ وَهُوَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ Latudrikuhul absoru wa huwa yudrikul absooro wa huwalathiiful khobiir Artinya: “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu, dan Dialah  Yang Mahahalus, Mahateliti.” Tafsir Ayat a. Tafsir Jalalayn Mata makhluk tidak mampu melihat Allah di dunia karena keterbatasan makhluk, sedangkan Allah melihat segala sesuatu tanpa batas. Dia adalah al-Lathif (Yang Maha Halus), yaitu yang mengetahui hal paling tersembunyi, dan al-Khabir (Yang Maha Mengetahui), yaitu yang mengetahui segala perbuatan makhluk. b. Tafsir Ibnu Katsir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini menegaskan kemahakuasaan Allah yang tidak ...

KHASIAT SURAT AT-TAUBAH AYAT 128-129

Diantara khasiat dua ayat ini maksudnya LAQAD JAA`AKUM s/d akhir surat, bahwasanya barang siapa membacanya pada satu hari maka dia tidak akan mati pada hari tsb, sebagaimana diriwayatkan dari Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam َ Fadhilah Khusus dari Surat At-Taubah Ayat 128-129 ?  Dalam Kitab Mujarrabat Ad-Dairabi Al-Kabir, karya Syeikh Ahmad Dairabi, halaman 42, cetakan Mathba’ah Musthafa Muhammad, Mesir, diterangkan: Dalam satu riwaayat, dia tidak akan dibunuh, dan tidak akan dibukul dengan besi. Jika dia membacanya di malam hari maka sebagaimana yang disebutkan diatas (maksudnya dia tidak akan mati di malam hari tsb). Hadits ini dituturkan oleh ba'dhusholihin. عن الشيخ التجاني ا من قرأ آية الحرص ( لقد جاءكم رسول من أنفسكم...........) مرة بعد صلاة الصبح حفظ قلبه و بعد صلاة الظهر (مرة) أحيا قلبه و ثبته في الحياة الدنيا و الآخرة و بعد صلاة العصر (مرة)لم يمت موت الفجأة و بعد صلاة المغرب (مرة) رزق الاستقامة و بعد صلاة العشاء (مرة) حفظ من كبار المعاصي و بعد الوتر (مرة) كفى أمر الر...