Langsung ke konten utama

Waspada Penghancur Amal Ibadah Bernama Riya

Para ulama mendefinisikan riya dengan ”menginginkan kedudukan dan posisi di hati manusia dengan memperlihatkan berbagai kebaikan kepada mereka.”

Riya’ berasal dari kata ru’yah (penglihatan) sebagaimana sum’ah berasal dari kata sam’u (pendengaran). Dari sekedar makna bahasa ini bisa difahami bahwa riya’ adalah sikap ingin diperhatikan atau dilihat orang lain.

Dari definisi ini jelas bahwa dasar perbuatan riya adalah untuk mencari penghargaan, pujian, kedudukan atau posisi di hati manusia semata dalam suatu amal kebaikan atau ibadah yang kita lakukan.

Sering keberadaan riya’ ini luput dari pengamatan dan perasaan seseorang dikarenakan begitu tidak kentaranya, sehingga ada yang mengibaratkan bahwa ia lebih halus daripada seekor semut hitam di atas batu hitam di tengah malam yang gelap gulita.

Padahal keberadaan riya’ dalam suatu amal amatlah berbahaya dikarenakan ia dapat menghapuskan pahala dari amal tersebut. Riya’ disebut sebagai penyakit yang bersifat lembut namun berdampak luar biasa.

Bersifat lembut karena masuk dalam hati secara halus sehingga kebanyakan orang tak merasa kalau telah terserang penyakit ini. Berdampak luar biasa, karena bila suatu amalan dijangkiti penyakit riya maka amalan itu tidak akan diterima oleh Allah SWT dan pelakunya mendapat ancaman keras dari-Nya.

Selain berbahaya sebagai penyakit yang bersifat lembut tapi berdampak luar biasa, riya’ juga disebut sebagai syirik kecil. Oleh karena itu Nabi ﷺ sangat khawatir bila penyakit ini menimpa umatnya.

Nabi Muhammad ﷺ pun bersabda yang artinya:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ قَالَ الرِّيَاءُ

“Sesungguhnya yang paling ditakutkan dari apa yang saya takutkan menimpa kalian adalah asy syirkul ashghar (syirik kecil), maka para shahabat bertanya, apa yang dimaksud dengan asy syirkul ashghar? Beliau ﷺ menjawab: “Ar Riya’.” (HR. Ahmad dari sahabat Mahmud bin Labid)

Karena sifatnya yang halus, maka riya’ menjadi salah satu cara setan menjerumuskan manusia ke dalam dosa. Untuk itulah manusia harus ekstra hati-hati.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا لَا يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

“Hai orang-orang yang beriman janganlah kalian menghilangkan pahala sedekahmu dengan selalu menyebut-nyebut dan dengan menyakiti perasaan si penerima, seperti orang-orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan tidak beriman kepada Allah dan hari akhir.” (QS: Al Baqarah: 264)

Dalam konteks ayat di atas, Allah SWT mengingatkan akibat amalan sedekah yang selalu disebut-sebut atau yang menyakiti perasaan si penerima akan berakibat sebagaimana akibat dari perbuatan riya’, yaitu amalan itu tiada berarti karena tertolak di sisi Allah SWT.

Ayat di atas tidak hanya mencela perbuatan riya saja, tentu celaan ini pun tertuju kepada pelakunya. Bahkan dalam ayat yang lain, Allah swt mengancam bahwa orang-orang yang berbuat riya’ akan mendapatkan kecelakaan (kebinasaan) di akhirat kelak, sebagaimana yang tertuang dalam surah Al Mauun.

Dikisahkan pada suatu waktu sahur, seorang abid (ahli ibadah) sedang membaca Al-Quran, Surah “Thoha”.  Usai membaca, di biliknya yang berdekatan dengan jalan raya, ia  merasa sangat mengantuk, lalu tertidur.

Dalam tidurnya dia bermimpi melihat seorang lelaki turun dari langit membawa sebuah Al-Quran. Lelaki itu datang menemuinya dan segera membuka kitab suci itu di depannya.

Dibukanya Surah “Thoha” dan disibaknya halaman demi halaman. Si abid melihat setiap kalimat surah yang dibacanya dicatat sepuluh kebajikan sebagai pahala bacaannya kecuali satu kalimat saja yang catatannya ditiadakan pahalanya.

Lalu katanya, “Demi Allah, sesungguhnya telah aku baca seluruh surah ini tanpa meninggalkan satu kalimat pun. Tetapi mengapa catatan pahala untuk kalimat ini ditiadakan?”

Benar apa yang engkau katakan. Engkau memang tidak meninggalkan kalimat itu dalam bacaanmu tadi. Malah, untuk kalimat itu telah kami catatkan pahalanya. ”Tetapi tiba-tiba kami mendengar suara yang menyeru dari arah ‘Arasy : ‘Hapus catatan itu dan gugurkan pahala untuk kalimat itu’. Maka sebab itulah kami segera menghapusnya”.

Si abid menangis dalam mimpinya itu dan berkata, “Mengapa tindakan itu dilakukan?”. “Sebabnya adalah engkau sendiri. Ketika membaca surah itu tadi, seorang hamba Allah melewati jalan di depan rumahmu. Engkau sadar hal itu, lalu engkau meninggikan suara bacaanmu supaya didengar oleh hamba Allah itu. Kalimat yang tiada bercatatan pahala itulah yang telah engkau baca dengan suara tinggi itu”.

Si abid terjaga dari tidurnya. “Astaghfirullaahal-’Azhim! Sungguh  riya’ menyusup masuk ke dalam kalbuku dan sungguh besar celakanya. Dalam sekejap mata saja ibadahku dimusnahkannya.”

Menurut Imam Ghozali cara untuk menghilangkan penyakit riya’ adalah dengan cara menghilangkan sebab-sebab riya’, seperti kenikmatan terhadap pujian orang lain dan marah jika mendapat celaan dari orang.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

CIRI-CIRI BUROK DALAM HADIST SHOHIH

Ciri-Ciri Buraq dalam Hadis: Pemahaman dan Penjelasan Buraq merupakan makhluk yang sangat penting dalam perjalanan Isra' dan Mi'raj yang dialami oleh Nabi Muhammad ﷺ. Perjalanan ini mengisahkan tentang perjalanan malam Nabi dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa dan kemudian menuju langit. Salah satu elemen penting dalam perjalanan tersebut adalah Buraq, kendaraan yang digunakan oleh Rasulullah ﷺ. Banyak cerita yang berkembang mengenai rupa dan sifat Buraq, namun dalam artikel ini kita akan membahasnya berdasarkan hadis-hadis sahih serta penjelasan dari para ulama. 1. Sifat Buraq dalam Hadis Deskripsi Buraq Menurut Hadis Shahih. Buraq digambarkan dalam hadis sebagai makhluk yang memiliki sifat fisik yang luar biasa. Salah satu hadis yang paling terkenal tentang Buraq diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu. Dalam hadis tersebut, Rasulullah ﷺ menyatakan bahwa Buraq adalah hewan yang berwarna putih dan memiliki ukuran tubuh yang unik: Teks Arab: عَنْ أَنَسٍ رَضِ...

Latudrikuhul Absoru,Surat Al-An’am Ayat 103, dan Hikmah di dalamnya.

Mengutip buku Teologi Islam susunan Muhammad Ridwan Efendi (2021), Allah adalah Dzat yang Maha Melihat. Dia bisa melihat segala perbuatan manusia, baik yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Firman Allah SWT, surat Al-An'am : 103 لَا تُدْرِكُهُ الْاَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْاَبْصَارَۚ وَهُوَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ Latudrikuhul absoru wa huwa yudrikul absooro wa huwalathiiful khobiir Artinya: “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu, dan Dialah  Yang Mahahalus, Mahateliti.” Tafsir Ayat a. Tafsir Jalalayn Mata makhluk tidak mampu melihat Allah di dunia karena keterbatasan makhluk, sedangkan Allah melihat segala sesuatu tanpa batas. Dia adalah al-Lathif (Yang Maha Halus), yaitu yang mengetahui hal paling tersembunyi, dan al-Khabir (Yang Maha Mengetahui), yaitu yang mengetahui segala perbuatan makhluk. b. Tafsir Ibnu Katsir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini menegaskan kemahakuasaan Allah yang tidak ...

KHASIAT SURAT AT-TAUBAH AYAT 128-129

Diantara khasiat dua ayat ini maksudnya LAQAD JAA`AKUM s/d akhir surat, bahwasanya barang siapa membacanya pada satu hari maka dia tidak akan mati pada hari tsb, sebagaimana diriwayatkan dari Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam َ Fadhilah Khusus dari Surat At-Taubah Ayat 128-129 ?  Dalam Kitab Mujarrabat Ad-Dairabi Al-Kabir, karya Syeikh Ahmad Dairabi, halaman 42, cetakan Mathba’ah Musthafa Muhammad, Mesir, diterangkan: Dalam satu riwaayat, dia tidak akan dibunuh, dan tidak akan dibukul dengan besi. Jika dia membacanya di malam hari maka sebagaimana yang disebutkan diatas (maksudnya dia tidak akan mati di malam hari tsb). Hadits ini dituturkan oleh ba'dhusholihin. عن الشيخ التجاني ا من قرأ آية الحرص ( لقد جاءكم رسول من أنفسكم...........) مرة بعد صلاة الصبح حفظ قلبه و بعد صلاة الظهر (مرة) أحيا قلبه و ثبته في الحياة الدنيا و الآخرة و بعد صلاة العصر (مرة)لم يمت موت الفجأة و بعد صلاة المغرب (مرة) رزق الاستقامة و بعد صلاة العشاء (مرة) حفظ من كبار المعاصي و بعد الوتر (مرة) كفى أمر الر...