Langsung ke konten utama

SYARIAT,THARIQAT,HAQIQAT DAN MA'RIFAT DALAM PANDANGAN ULAMA SUFI AHLUS SUNAH

ILMU SYARIAT,THARIQAT,HAQIQAT DAN MA'RIFAH MENURUT PANDANGAN SUFI

     Orang sufi mempunyai penafsiran dan pandangan sendiri mengenai Ilmu. Al - Imam Ghazali  yang di pandang sebagai ulama sufi ahlus sunah mengupas hal ini secara panjang lebar dalam kitabnya, "Ihya Ulumu Din" beliau menjelaskan bahwa "ilmu itu ada yang dipelajari semata-mata untuk memperoleh pengetahuan yaitu Ilmu mukasyafah, dan ada yang dipelajari untuk diamalkan Ilmu Mu'ammalah". Meskipun pada dasarnya ilmu itu berarti mengetahui tentang keadaan sesuatu dan merupakan sesuatu dari pada sifat Tuhan, tetapi ketika melihat kepada pemakai ilmu itu dikemudian hari,maka ilmu itu terbagi kepada dua bagian :
Pertama ilmu yang tercela mempelajarinya.
Kedua ilmu yang yang bermampaat mempelajarinya.
     Adapun ilmu tercela itu pada pokok tidak dikatakan tercela (tidak mamfaat/rusak)  tetapi melihat kepada cara menggunakannya maka ilmu itu termasuk ilmu tercela kalau didapati  salah satu tiga sebab padanya :
Pertama,"bahwa ilmu itu dapat memberi mudarat (kerusakan) baik kepada yang mempelajarinya maupun orang lain seperti Ilmu Sihir,perdukunan dan sejenisnya.
Kedua, "bahwa ilmu itu dapat membayakan sewaktu-waktu bagi orang lain kalau disalah gunakan,seperti ilmu nujum (perbintangan), untuk mempelajari bumi,bulan bintang matahari guna menetapkan waktu,tidak tercela, tetapi jika digunakan sebagi guna-guna,sihir,santet dan lainnya untuk mencelakakan orang lain maka ketika itu ilmu tersebut tercela adanya.
Ketiga, "menyelami sesuatu ilmu yang tidak ada batasnya,sehingga hanya membuang waktu dan tidak mendapat faidah apa-apa".
     Adapun ilmu mampaat itu adalah ilmu yang digunakan untuk mempelajari dan mengetahui jalan-jalan akherat yang menjadikan manusia mengenal Tuhannya. Ilmu itu terbagi menjadi bagian-bagian yang tidak terpisahkan seperi fiqih,aqidah,tauhid dan lainnya, yang membawa pelakunya pada nur hidayah  Tuhannya. Dengan pengertian ini maka orang yang berilmu ini mereka dinamakan Ulama.
     Dengan demikian kaum sufi membagi ilmu itu dalam beberapa bagian yaitu,Ilmu syariat,Ilmu Tarekat,Ilmu hakikat dan Ilmu ma'rifat. Adapun penjelasan ilmu-ilmu tersebut yaitu:

1.SYARI'AT
     Pengertian syari'at pada mulanya berarti peraturan-peraturan agama yang diturunkan oleh Allah Swt (syar'i) kepada Nabinya. Sedangkan bagi kalangan sufi Ilmu syariat itu ialah amal ibadah lahir dan urusan mu'amalat mengenai hubungan antara manusia dengan manusia maupun hubungan dengan kholik, sebagaimana yang diuraikan dalam ilmu fiqih baik mengenai pokok-pokoknya ( usul ) maupun mengenai cabang-cabangnya (furu').
Adapun ilmu syariat yang menyangkut hukum syara' berdasarkan kepada pokoknya yaitu al-quran,as-Sunah, Ijma dan Qiyas.
     Hukum-hukum yang ditetapkan dalam syariat terbagi menjadi beberapa bagian yaitu:
a. Wajib, sesuatu yang bila dikerjakan mendapatkan pahala dan bila ditinggalkan mendapatkan siksa.
b. Haram, sesuatu yang bilamana dikerjakan mendapat siksa dan bila ditinggalkan mendapat pahala.
c. Makruh, sesuatu bila di kerjakan tidak mendapat siksa tapi ( hanya kurang di sukai ) dan bila di tinggalkan mendapat pahala.
d. Mubah, sesuatu yang tiada di beri pahala maupun di beri siksa baik itu dikerjakan maupun di tinggalkan.
     Adapun orang-orang sufi Ahlus sunah meninjau ibadah mereka berdasarkan syariat yang telah ditetapkan, dari pada hukum-hukum atau syarat dan rukun yang sudah ditetapkan dalam ilmu fiqih ahli syariat.

2. THARIQAT
     Thariqat menurut golongan sufi ialah,"ajaran-ajaran dan petunjuk jalan menuju kepada Tuhan, maka tidak lah sampai kepada tujuan ibadah itu (haqiqah) sebelum menempuh atau melaksakan jalan kearah itu (Thariqat)." Adapun orang yang melakukan (Thariqat) disebut salik.
     Maksud tujuan dari Thariqat mempertebal iman kepada Allah, sehingga tidak ada kecintaan yang lebih indah di cintai selain Dia, dan kecintaan itu melupakan dirinya dan dunia ini seluruhnya.Dalam perjalanan kepada tujuan tersebut, salik (penuntut thariqah) di latih ikhlas, bersih segala amal dan niatnya. Muqarrobah, merasa diri selalu di selalu diawasi oleh Allah Swt. Muhasabah, memperhitungkan amalnya baik maupun buruk serta selalu menambah kebajikan dan pahala. Tadjarrud, melepaskan segala ikatan yang merintangi dirinya menuju jalan itu (Thariqah) dengan demikian jiwanya terisi rasa  hubb (cinta) kepada Tuhan melebihinya dari rasa cinta pada dirinya dan lingkungan alam sekitarnya.
     Untuk menuntut jalan Thariqat maka seorang di tuntut memiliki Syekh atau Mursyid, guru yang memberi petunjuk mengenai amal-amal (perbuatan ibadah) tertentu  dalam Riadah atau latihan-latihan dalam melakukan zikir dan wirid, memperbaiki penyakit jiwa ( amradhal qulub), menyendiri jauh dari dan bersama manusia (khalwat), melatih diri dalam lapar (puasa),senantiasa diam,berjaga malam (qiyamul lail), memperbanyak amalan sunah. Meningkatkan ingatan hanya pada Allah swt. Memiliki silsilah (mata rantai) Thariqat yang sambung menyambung sampai kepada Nabi Saw.

3. HAQIQAT

     Perkataan hakikat berasal dari kata pokok Haq yang berarti kepunyaan atau satu pihak milik atau kebenaran.
Dengan demikian Ilmu Hakikat adalah Ilmu untuk mencari kebenaran hakiki. Dan Haq bagi seorang sufi di pakai sebagai istilah untuk Allah Swt, yang merupakan pokok dari segala kebenaran.
      Sedangkan segala sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran disebut Bathil yang bermakna sesuatu yang tidak benar. Dalam keyakinan sufi hakikat baru dapat di capai sesudah seorang sufi mencapai ma'rifat yang sebenar-benarnya. Keadaan tersebut di capai setelah mencapai dua tingkat keadaan,ainul yaqin dan Ilmul yakin.
      Mula-mula seorang sufi mencari sesuatu dengan ilmunya, kemudian sampai pada keyakinan akal,kehendak, angan-angan dan jiwanya setelah itu beroleh ia akan Haqqul Yakin, kebenaran yang sebenarnya, yang di yakininya menentramkan hati dan jiwanya, setelah itu ia memperoleh ma'rifat mengenal Tuhan dengan mata hatinya, maka terbukalah apa yang tertutup Kasful Mahdjub, tersingkapnya tirai yang menghalangi hamba dengan Tuhannya.
     Apabila Thariqat itu telah benar dijalani dengan segenap kesungguhan,memegang segala syarat dan rukunnya dari akhir perjalannya tentu berujung hakikat.
     Kata Hakikat (Haqiqah) seakar dengan kata al-Haqq, reality, absolute, yang dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai kebenaran atau kenyataan.
     Hakikat merupakan unsur ketiga setelah syari’at yang merupakan kenyataan eksoteris dan thariqat (jalan) sebagai tahapan esoterisme, sementara hakikat adalah tahapan ketiga yang merupakan kebenaran yang esensial.
     Hakikat juga disebut Lubb yang berarti dalam atau sari pati, mungkin juga dapat diartikan sebagai inti atau esensi.
Secara terminologis, kamus ilmu Tasawuf menyebutkan bahwa Hakikat adalah kemampuan seseorang dalam merasakan dan melihat kehadiran Allah di dalam syari’at itu, sehingga hakikat adalah aspek yang paling penting dalam setiap amal, inti, dan rahasia dari syari’at yang merupakan tujuan perjalanan salik.
      Hakikat juga dapat diartikan sebagai sebuah afirmasi akan eksistensi wujud baik yang diperoleh melalui penyingkapam dan penglihatan langsung pada substansinya, atau juga dengan mengalami kondisi-kondisi spiritual, atau mengafirmasi akan ketunggalan Tuhan.
     Tokoh sufi lainnya, Ahmad Sirhindi, mendefinisikan hakikat sebagai persepsi akan realitas dalam pengalaman mistik. Sementara penafsiran Prof. Dr. Mulyadhi Kartanegara mengenai Hakikat adalah dari sudut pandang dimana banyak para sufi menyebut diri mereka ‘ahl-haqiqah’ dalam pengertian sebagai pencerminan obsesi mereka terhadap ‘kebenaran yang hakiki’ (kebenaran yang esensial)
Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
·      "Inna haadzaa lahuwa haqqu alyaqiini, fasabbih biismi rabbika al'azhiimi.."
Artinya :
"Sungguh, yg demikian itu adalah hakikat yg meyakinkan maka bertasbihlah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang Maha Besar." (QS Al-Waqiah [56]: 95-96)
·      "Fadzaalikumu allaahu rabbukumu alhaqqu famaatsaa ba'da alhaqqi illaa aldhdhalaalu fa-annaa tushrafuuna.."

Artinya :
"Maka ikutilah DIA Tuhanmu yang hakiki. Tidak ada sesudah kepastian itu melainkan kesesatan. Tetapi bagaimanakah kamu dapat dipalingkan dari kebenaran?" (QS Yunus [10]: 32)

     Ilmu "HAKIKAT" ini termasuk ilmu Maknun (Ilmu yg tersimpan) yg tidak boleh disebarkan kecuali kepada ahlinya, karena mengandung unsur yg membahayakan bagi orang awam (kebanyakan),sebagaimana yg diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a. berikut ini:
"Saya meriwayatkan dari Rasulullah SAW dua wadah ilmu: salah satunya telah saya sebarkan kepada kalian, adapun yg kedua seandainya saya sebarkan kepada kalian, niscaya kalian akan mengasah pisau utk memotong leherku ini (dua wadah itu ialah Syariat dan Hakikat)".
     Al-Ghazali menegaskan bahwa Ilmu HAKIKAT termasuk ilmu rahasia yang kelihatannya bertentangan dengan Ilmu Syari'at, namun hakekatnya tidaklah bertentangan.
Ilmu ini, yg tdk boleh ditulis dan tdk boleh disebar-luaskan secara umum, tetapi harus disembunyikan kecuali kepada orang yang terpercaya (yang dapat menyimpan amanah), sebagaimana yg diungkapkan oleh Imam Ali Zainuddin bin Husein bin Ali bin Abu Thalib.
"Banyak Ilmu bagaikan mutu manikam. Seandainya aku sebar-luaskan,niscaya orang-orang menganggapku termasuk para penyembah berhala, dan banyak tokoh kaum Muslimin menganggap halal darahku hingga mereka menganggap membunuhku itu lebih baik."

4. MA'RIFAH

     Pengertian ma'rifah mempunyai makna yang banyak sekali. Ada yang mengemukakan bahwa ma'rifat itu dapat dicapai dengan akal dan ada pula yang berpendapat ma'rifat itu hanya dapat di peroleh denga jalan syara'. Tetapi baik dalam kalangan ahli filsafat maupun dalam kalangan agama Islam, keduanya  memiliki kesamaan paham bahwa tujuan akhir dari ma'rifat yaitu mengenal Tuhan dengan sebenar-benarnya.
     Adapun filsafat menurut Al-Farabi ialah "mengetahui wujud haq, dan wujud haq itu ialah wajibul wujud dengan zatnya, dan wajibul wujud itu tidak lain adalah Allah Swt yang satu tunggal (احد)".
Begitu juga Ibnu sina berpendapat, bahwa hakikat pekerjaan itu ialah ma'rifat,pengetahuan,yang berakhir dengan perbuatan.

Ma'rifat Menurut al-Ghazali

     Dalam pengertian bahasa ma'rifat berarti mengetahui sesuatu apa adanya,atau berarti ilmu yang tidak lagi menerima keraguan.
     Dalam pandangan al-Ghazali, sebagaimana ditulis oleh al--Taftazani, ma'rifat adalah mengenal Allah; tidak ada yang wujud selain Allah dan Perbuatan Allah. Menurut al-Ghazali, Allah dan perbuatan-Nya adalah dua, bukan satu. Alam semesta adalah ayat (bukti) kekuasaan dan kebesarannya. Ma'rifat adalah ilmu yang tanpa keraguan ketika obyek ilmu itu adalah Allah dan sifatnya. Dalam ungkapan lain, ma'rifat menurut al-Ghazali adalah tauhidnya para shiddiqin yang tidak melihat selain ke-esaan Allah dalam seluruh apa yang tampak, dan menghilangkan hak-hak atas diri mereka.
     Ma'rifat adalah kondisi (hal) yang bermuara dari upaya-upaya mujahadat dan menghapus sifat-sifat yang jelek, pemutusan semua hubungan dengan makhluk, serta penghadapan inti/hakikat cita-cita kepada Allah yang dilakukan oleh seseorang. Dalam kondisi ini, maka Allah kemudian hadir dan mengisi hati orang tersebut dan kemudian Allah memenuhi hati orang tersebut dengan rahmat, memancarkan nur-Nya, melapangkan dada, membuka padanya rahasia alam malakut, tersingkaplah dari hati orang tersebut kelengahan sebab kelembutan rahmat-Nya, serta berkilauanlah disana hakikat masalah-masalah ilahiyat.
     Para nabi dan wali memperoleh pengetahuan dan dadanya terpenuhi oleh nur dengan cara serupa ini. Mereka memperolehnya tanpa belajar dan membaca, tetapi dengan zuhud di dunia dan membebaskan diri dari belenggunya, mengosongkan hati dari kotoran-kotorannya, serta menghadap secara utuh kepada Allah. Ini bisa terjadi karena barangsiapa keberadaannya untuk Allah, maka Allah juga baginya.
     Perjalanan seseorang menuju ma'rifat berangkat dari keyakinan seseorang yang kemudian melalui upaya-upaya yang tidak mudah, seseorang melakukan perjalanan naik/perkembangan positif dalam kondisi internalnya dalam bentuk maqam/stage.
     Keyakinan seseorang mengindikasikan kekuatan imannya kepada Allah, hari akhir, surga dan neraka. Setelah keyakinan ini, seseorang naik kepada stage berikutnya yaitu khauf dan raja'.
     Berikutnya tahap Shabr, yang menghantar kepada satu tahap diatasnya yaitu mujahadah, dzikr, dan tafakkur. Dzikir mengantarkan kepada tahap uns. Tafakkur menghantarkan kepada sempurnanya ma'rifat. Sempurnanya ma'rifat dan uns menghantar kepada mahabbah. Mahabbah menyebabkan kerelaan sesorang atas segala tindakan yang dicintainya dan percaya akan pertolongannya. Ini adalah tawakkal.
     Dalam kaitan dengan ma'rifat, ada dua bentuk yang sering disebutkan oleh al-Ghazali yaitu ma'rifat al-dzat dan ma'rifat al-sifat.
     Pengertian ma'rifat al-dzat adalah pengetahuan bahwa-sanya Allah adalah dzat maujud, tunggal (fard), esa (wahid), dan sesuatu yang agung yang tegak dengan dirinya serta tidak diserupai oleh sesuatu apapun.
     Sedangkan ma'rifat al-sifat ber-arti pengetahuan bahwa Allah adalah dzat adalah zat yang hidup (hayy), maha mengetahui ('alim), maha berkuasa(qadir), maha mendengar(sami'), maha melihat (bashir) dan seterusnya dengan sifat-sifat yang lain.
     Yang tercakup dalam ma'rifat adalah empat hal yaitu mengetahui diri (nafs), mengetahui tuhan (rabb), mengetahui dunia, dan mengetahui akhirat. Diri diketahui dengan jalan beribadah, merendah (dzull), dan menjadi faqir (iftiqar).
     Tuhan diketahui dengan kemulyaan, keagungan, dan kekuasaannya. Ia dapat diketahui juga dengan keberadaan hamba sebagai seorang asing di dunia, keberadaannya sebagai orang yang sedang melaku-kan perjalanan dari dunia ke akhirat, dan orang yang menjauhi syahwat-syahwat kebinatangan (bahimiyyah).
     Tanda bagi adanya ma'rifat adalah hidupnya hati beserta Allah Ta'ala. Ditulis oleh al-Ghazali, bahwasanya pernah terjadi dialog antara Allah dan Nabi Daud A.S. dimana Daud ditanya oleh Allah, "Adakah Engkau tahu apakah ma'rifat kepadaku ?", Daud menjawab, "Tidak". Dijelakan oleh Allah, "Ia itu adalah hidupnya hati 

Sumber dan Tingkatan Ma'rifat
Sumber ma'rifat menurut al-Ghazali ada empat yaitu :

a. Pancaindera; Menurut al-Ghazali, pancaindera adalah termasuk juga sumber ma'rifat. Akan tetapi bekerjanya hanya dalam beberapa sumber, akan tetapi tidak dalam yang lain.

b. Akal; Sebagaimana pancaindera, akal juga adalah merupakan salah satu sumber ma'rifat dalam beberapa sumber. Tetapi sekali lagi, ditegaskan bahwa ia bukanlah segala-galanya. Menganggap dan memberikan cakupan yang luas bagi akal sebagai sumber ma'rifat dapat menyebabkan penyepelean terhadap al-Qur'an sebagai utama.

c. Wahyu; Menurut al-Ghazali, wahyu adalah sumber terbesar bagi Ma'rifat. Wilayah cakupannya sangat luas, sesuai dengan posisinya sebagai sumber pertama dan utama bagi ajaran Islam.

d. Kasyf; yang dimaksud dengan kasyf oleh al-Ghazali adalah cahaya yang dihunjamkan ke dalam hati hamba, sehingga hati dapat melihat dan merasakan sesuatu dengan 'ain al-yaqin. Kasyf adalah sumber kedua bagi ma'rifat yang terbesar setelah wahyu.
   
      Tingkatan ma'rifat, menurut al-Ghazali berjenjang sesuai dengan tingkatan iman seseorang. Karena itu, tingkatan ma'rifat dibagi menjadi tiga sesuai dengan tingkatan iman seseorang. Tiga tingkatan tersebut yaitu :

a. Tingkatan pertama; imannya orang awam. Iman dalam tingkatan ini adalah iman taqlid yang murni.

b. Tingkatan kedua; Imannya para ahli kalam. Mereka adalah orang-orang yang mengaku ahli akal dan berpikir atau mengaku sebagai tokoh penelitian dan istidlal.

c. Tingkatan ketiga; Imannya para 'arifin yaitu orang-orang yang menyaksikan dengan 'ainul yaqin.
    
     Sebagian ahli ma’rifah lain juga pernah ditanyai mengenai hakikat kema’rifahan, dan mereka menyatakan: “Hakikat ma’rifah adalah mensucikan rahasia dan segala kehendak, meninggalkan segala kebiasaan, menenteramkan hati tertuju kepada-Nya tanpa melalui mediasi, dan meninggalkan sikap berpaling dari Allah SWT. dengan beralih pada selain-Nya. Karena ma’rifah pada substansi Zat-Nya, sifat-sifat-Nya dan juga hakikat-Nya, tidak mungkin dapat dicapai kecuali hanya dengan-Nya yang Mahaluhur dan Mahabijak. Segala puji hanya bagi-Nya.”

    

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CIRI-CIRI BUROK DALAM HADIST SHOHIH

Ciri-Ciri Buraq dalam Hadis: Pemahaman dan Penjelasan Buraq merupakan makhluk yang sangat penting dalam perjalanan Isra' dan Mi'raj yang dialami oleh Nabi Muhammad ﷺ. Perjalanan ini mengisahkan tentang perjalanan malam Nabi dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa dan kemudian menuju langit. Salah satu elemen penting dalam perjalanan tersebut adalah Buraq, kendaraan yang digunakan oleh Rasulullah ﷺ. Banyak cerita yang berkembang mengenai rupa dan sifat Buraq, namun dalam artikel ini kita akan membahasnya berdasarkan hadis-hadis sahih serta penjelasan dari para ulama. 1. Sifat Buraq dalam Hadis Deskripsi Buraq Menurut Hadis Shahih. Buraq digambarkan dalam hadis sebagai makhluk yang memiliki sifat fisik yang luar biasa. Salah satu hadis yang paling terkenal tentang Buraq diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu. Dalam hadis tersebut, Rasulullah ﷺ menyatakan bahwa Buraq adalah hewan yang berwarna putih dan memiliki ukuran tubuh yang unik: Teks Arab: عَنْ أَنَسٍ رَضِ...

Latudrikuhul Absoru,Surat Al-An’am Ayat 103, dan Hikmah di dalamnya.

Mengutip buku Teologi Islam susunan Muhammad Ridwan Efendi (2021), Allah adalah Dzat yang Maha Melihat. Dia bisa melihat segala perbuatan manusia, baik yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Firman Allah SWT, surat Al-An'am : 103 لَا تُدْرِكُهُ الْاَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْاَبْصَارَۚ وَهُوَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ Latudrikuhul absoru wa huwa yudrikul absooro wa huwalathiiful khobiir Artinya: “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu, dan Dialah  Yang Mahahalus, Mahateliti.” Tafsir Ayat a. Tafsir Jalalayn Mata makhluk tidak mampu melihat Allah di dunia karena keterbatasan makhluk, sedangkan Allah melihat segala sesuatu tanpa batas. Dia adalah al-Lathif (Yang Maha Halus), yaitu yang mengetahui hal paling tersembunyi, dan al-Khabir (Yang Maha Mengetahui), yaitu yang mengetahui segala perbuatan makhluk. b. Tafsir Ibnu Katsir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini menegaskan kemahakuasaan Allah yang tidak ...

KHASIAT SURAT AT-TAUBAH AYAT 128-129

Diantara khasiat dua ayat ini maksudnya LAQAD JAA`AKUM s/d akhir surat, bahwasanya barang siapa membacanya pada satu hari maka dia tidak akan mati pada hari tsb, sebagaimana diriwayatkan dari Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam َ Fadhilah Khusus dari Surat At-Taubah Ayat 128-129 ?  Dalam Kitab Mujarrabat Ad-Dairabi Al-Kabir, karya Syeikh Ahmad Dairabi, halaman 42, cetakan Mathba’ah Musthafa Muhammad, Mesir, diterangkan: Dalam satu riwaayat, dia tidak akan dibunuh, dan tidak akan dibukul dengan besi. Jika dia membacanya di malam hari maka sebagaimana yang disebutkan diatas (maksudnya dia tidak akan mati di malam hari tsb). Hadits ini dituturkan oleh ba'dhusholihin. عن الشيخ التجاني ا من قرأ آية الحرص ( لقد جاءكم رسول من أنفسكم...........) مرة بعد صلاة الصبح حفظ قلبه و بعد صلاة الظهر (مرة) أحيا قلبه و ثبته في الحياة الدنيا و الآخرة و بعد صلاة العصر (مرة)لم يمت موت الفجأة و بعد صلاة المغرب (مرة) رزق الاستقامة و بعد صلاة العشاء (مرة) حفظ من كبار المعاصي و بعد الوتر (مرة) كفى أمر الر...