Para ulama mendefinisikan riya dengan ”menginginkan kedudukan dan posisi di hati manusia dengan memperlihatkan berbagai kebaikan kepada mereka.” Riya’ berasal dari kata ru’yah (penglihatan) sebagaimana sum’ah berasal dari kata sam’u (pendengaran). Dari sekedar makna bahasa ini bisa difahami bahwa riya’ adalah sikap ingin diperhatikan atau dilihat orang lain. Dari definisi ini jelas bahwa dasar perbuatan riya adalah untuk mencari penghargaan, pujian, kedudukan atau posisi di hati manusia semata dalam suatu amal kebaikan atau ibadah yang kita lakukan. Sering keberadaan riya’ ini luput dari pengamatan dan perasaan seseorang dikarenakan begitu tidak kentaranya, sehingga ada yang mengibaratkan bahwa ia lebih halus daripada seekor semut hitam di atas batu hitam di tengah malam yang gelap gulita. Padahal keberadaan riya’ dalam suatu amal amatlah berbahaya dikarenakan ia dapat menghapuskan pahala dari amal tersebut....
"Barang siapa diberikan Hikmah sungguh ia mendapat kebaikan yang banyak" "Carilah Hikmah, sesungguh ia merupakan permata yang hilang dari orang-orang beriman" "Barang siapa yang bersungguh-sungguh maka ia dapat hasil darinya" "Ada dua macam ilmu : ilmu tentang tubuh dan ilmu tentang agama"